The Verdict
Kamu menyerahkan kunci kembali ke Shinji Mikami, pria yang menciptakan Resident Evil, dan memintanya membuat survival horror 'murni' lagi, yang itu setara dengan meminta koki asli memperbaiki waralaba yang ia dirikan. Dan dalam hal yang paling penting, ia mengantarkannya: atmosfer tegang dan desain horornya benar-benar luar biasa, ulasan baik yang diraih, rasa diburu dan kekurangan sumber daya persis rasa cekam throwback yang kamu janjikan. Saat The Evil Within menakutkan, ia menakutkan dengan benar.
Lalu sisa paketnya terus tersandung kakinya sendiri. Ceritanya kekacauan berbelit, karakternya tipis sampai tembus pandang, dan Sebastian Castellanos menghabiskan game sebagai pria yang mengikuti plot yang jelas tak bisa ia urai lebih baik daripada aku. Sisi teknisnya tak membantu: letterboxing paksa yang kamu bela sebagai sinematik, keluhan optimasi PC, dan jank umum dari game yang ingin terlihat seperti film dan lupa ia sebuah game. Kamu punya mata sutradara horor dan titik buta produser.
Dan kesulitannya, oh, kesulitannya. Survival horror seharusnya hidup di ujung pisau antara ketakutan dan frustrasi, dan kamu terus tergelincir ke sisi yang salah. Lonjakannya menjungkalkan rasa cekam jadi amarah cukup sering sampai kritikus menyebutnya, dan mereka benar. Tetap saja, memecah belah tak sama dengan buruk. Kamu meluncurkan waralaba yang meraih sekuel berulasan lebih baik pada 2017, yang berarti fondasinya kokoh bahkan saat rumahnya miring. Kamu membangun sesuatu yang layak diperbaiki, dan seseorang memperbaikinya.
What it nails
- ▲Kembalinya Shinji Mikami ke survival horror 'murni' mengantarkan atmosfer tegang dan desain horor yang dipuji kritikus.
- ▲Ulasan umumnya baik yang dibangun di atas rasa cekam throwback sejati dan rasa kelangkaan.
- ▲Atmosfer dan kerajinan horor dari pencipta Resident Evil sendiri, dan itu tampak.
- ▲Fondasi cukup kuat untuk meluncurkan waralaba yang meraih sekuel berulasan lebih baik pada 2017.
What it botches
- ▼Cerita berbelit dan karakter lemah meninggalkan Sebastian terdampar di plot yang tak bisa diikuti siapa pun.
- ▼Masalah teknis termasuk letterboxing paksa dan keluhan optimasi PC melemahkan presentasinya.
- ▼Lonjakan kesulitan menjungkalkan pengalaman dari ketakutan jadi frustrasi terlalu sering.
- ▼Ambisi sinematiknya bertabrakan dengan tugas momen-ke-momen jadi game yang bisa dimainkan.
Who it's for
Kamu mau survival horror jadul nan miskin sumber daya dari bapak pendiri genre dan bisa menahan sudut-sudut kasarnya.
Who should skip
Kamu butuh cerita koheren, optimasi bersih, dan kurva kesulitan yang tak menyergapmu dengan frustrasi.
The whole story lives on the hub
